Minggu, 22 Maret 2015
antara kemiskinan kebodohan dan kesempatan
Antara
“kemiskinan, kebodohan dan kesempatan”
Apakah
ada hubungan antara “kemiskinan” dan kebodohan.?. tentunya hal ini menjadi
pertanyaan yang mendasar ketika kita sedang membicarakan tentang pendidikan dan
sumberdaya manusia di Indonesia ini. Masalahnya adalah, apakah memang benar
kedua aspek tersebut secara signifikan merupakan kondisi yang sama? Apakah
memang benaar jika kita miskin, maka secara otomatis kita bodoh? Apakah
kemiskinan memang mampu menyebabkan kita bodoh? Ataupun sebaliknya.
Selama
ini memang sudah menjadi sebuah fenomena ataupun sebuah pandangan bahwa orang-
orang miskin itu identik dengan kebodohan, jika perokonomiannya rendah atau
lemah, atau sering juga disebut dengan “orang
miskin”, maka secara otomatis di anggap bodoh. Kita tidak mengetahui secara
jelas apakah hal ini merupakan sebuah kenyataan, sebab kenyataanya tidak semua
benar, karna di Indonesia ini juga tidak
sedikit orang miskin yang pinter, dan banyak sekali orang kaya yang bodoh,
berarti secara tidak langsung anggapan diatas itu tidak selalu benar dan tidak
bisa di salahkan juga. Sebenarnya kemiskinan hanyalah sebuah kondisi yang memaksa kita tidak mampu secara
financial untuk memenuhi tuntutan dunia pendidikan, yang memang disebabkan
mahalnya tuntutan pendidikan pada hari ini,
sementara kebodohan itu sendiri merupakan tingakatan kemampuan yang
dimilki seseorang setelah diukur dalam sebuah proses pembelajaran bahkan di
dalam proses pendidikan, kita tidak boleh mengatakan seseorang itu bodoh, kata
bodoh merupakan vonis mematikan
bagi kelangsungan belajar seseorang, oleh karna itulah, maka dalam konsep dunia
pendidikan kita tidak boleh mengatakan
anak didik sebagai bodoh, melainkan dig anti dengan kata yang lebih halus yaitu
bellum pandai, hal ini dikemukakan karna pendidikan dan pembelajaran adalah
sebuah proses, maka membutuhkan waktu dan selalu melalui tingkat kondisi yang semakin
membaik. Seperti halnya pisau tumpul, semakin dia di asah maka ia semakin
tajam, dan semakin dia sering di pakai, maka semakin sering juga dia di asah,
jadi pisau itu akan semakin tajam.
Berarti
memang sudah jelas bahwa kemiskinan itu bukanlah tolak ukur seorang bisa di
anggap sebagai orang yang bodoh, tapi jelas- jelas bisa mengkondisikan
seseoranng menjadi orang yang belum pandai, mereka tidak dapat mengikuti proses
pendidikan dan pembelajaran, sebab secara ekonomi mereka tidak dapat menutup
tuntutan biaya pendidikan yang semakkin tinggi, bahkan setiap ada ajaran baru
pasti tuntutan biaya itu dinaikan pula, apalagi untuk pendidikan yang berkelas,
malah sangat jauh dari angan dan bayangan.
Maka kesempatanlah yang sesungguhnya menjadi
penyebab utama seorang menjadi belum pandai secara intelektual, mereka tidak
mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya secara terbimbing.
Mereka harus belajar sendiri dari alam, sebab alamlah guru yang terbaik bagi
mereka, “mereka belajar secara autodidak” sesuai kemampuan yang mereka miliki.
Tetapi, sekali lagi, orang miskin bukanlah orang bodoh! Hal
ini sangat penting kita tekankan dalam presepsi kita untuk menghindari
deskriminasi proses. Dan untuk solusi dari hal tersebut, maka tidak dapat tidak
kiata harus memberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti proses pendidikan
dan pembelajaran pada seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat stratra
kehidupan ekonomi, bahkan seharusnya orang miskin mendapat perhatian lebih dari semua pihak agar mereka
dapat mengembangkan kemampuan mereka secara proposirsional, sesua dengan
kemampuan dasar yang mereka miliki dalam diri mereka.
Oleh: Mohammad Agung Badrus Shofa’
Korep: Bhineka Tunggal Ika (BETA)
Langganan:
Komentar (Atom)
